Rabu, 11 Mei 2011

Deskriminasi Gender dalam Novel Perempuan di Titik Nol


Ketidakadilan gender merupakan system dan struktur dimana baik kaum laki-laki maupun perempuan menjadi korban dalam system tersebut (Fakih, 2008 : 12). Perlawanan terhadap ideology gender dalam sastra melahirkan aliran feminisme. Yang memperjuangkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. (Dajanegara 2000). Tuntutan akan kesetaraan gender itu pada umumnya hadir melalui protagonist yang biasanya digambarkan sebagai korban deskriminasi gender. Latar pun sebagai unsure struktur yang mungkin menggambarkan suatu system social budaya yang berlaku biasanya juga menampilkan suatu konflik gender (antara perempuan dan laki-laki).  Dalam hal ini, perempuan lah yang biasanya menjadi korban deskriminasi gender. Seperti yang terdapat dalam novel Perempuan di Titik Nol dimana tokoh protagonisnya yang menjadi korban yaitu kaum wanita terutama Firdaus. Firdaus adalah seorang tokoh utama perempuan yang selalu menjadi korban deskriminasi gender. Bentuk-bentuk deskriminasi gender dalam novel Perempuan di Titik Nol ini yaitu deskriminasi dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan hukum.


1.      Deskriminasi gender di bidang pendidikan
Deskriminasi gender di bidang pendidikan yaitu makna yang mengacu pada kurang diberikannya kesempatan dan peluang bagi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan secara formal seperti yang terkandung dalam novel ini dimana para wanita khususnya tokoh utama dalam novel ini menjadi korban deskriminasi gender dalam bidang pendidikan yang tidak sampai mengenyam pendidikan tinggi sehingga berpengaruh juga dalam hel memeroleh pekerjaan. Perhatikan cuplikan sebagai berikut :

…ketika Paman naik ke atas kereta api, dan mengucapkan selamat tinggal, saya menangis dan merengek supaya dia membawa saya bersamanya ke Kairo. Tetapi paman bertanya,…”apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?” lalu saya jawab: “ saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman.” Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja. Lalu saya menangis, dan memegang tangannya, sementara kereta api mulai bergerak maju.” Tetapi ia menarik tangannya dengan sekuat tenaga dan secara tiba-tiba sehingga saya jatuh telungkup. (halaman 22).


Hal ini membuat Firdaus menjadi sedih, dia jadi takut memikirkan bahwa selama hidupnya hanya akan di habiskan waktu dengan bekerja di rumah. Padahal Firdaus memiliki cita-cita yang cukup tinggi bahkan sebagai kepala Negara, meskipun dia tahu bahwa kepala Negara hanya bisa dijabat oleh kaum laki-laki. Hal ini bisa dibuktikan dalam kutipan sebagai berikut :


“kadang-kadang saya bayangkan bahwa saya akan menjadi dokter, atau insinyur seorang ahli hukum atau hakim. (halaman 36)


Kegelisahan yang dialami oleh tokoh utama tentang masa depannya terutama mengenai ketakutannya akan nasibnya di masa mendatang yang tak kunjung membaik dari keadaannya yang sekarang. Hal ini dapat dilihat dalam cuplikan di bawah ini :


“maka saya kembali pulang dengan kepala tertunduk, merenungi bentuk jari kaki saya, sambil di jalan desa, saya merenungi diri sendiri, sementara pertanyaan bermacam-macam berkecamuk di benak saya. Siapakah saya? Siapakah ayah saya? Apakah saya akan menghabiskan hidup saya dengan mengumpulkan kotoran ternak, menjunjung pupuk di atas kepala, membuat adonan tepung, dan mmanggang roti?” (halaman 22)


Deskriminasi laki-laki terhadap perempuan di bidang pendidikan dalam novel ini semakin terlihat mencolok pada cuplikan dibawah ini :


“El Azhar adalah suatu dunia yang mangagumkan dan hanya dihuni oleh orang laki-leki saja, dan paman merupakan salah seorang dari mereka, dan dia adalah seorang laki-laki.” (halaman 30)


Karena kurangnya peluang mendapatkan pendidikan formal pada kaum wanita maka akan sangat berpengaruh terhadap pemerolehan pekerjaan yang lebih baik. Tokoh Firdaus dalam hal ini memiliki keinginan untuk melanjutkan studi ke universitas setelah lulus dari sekolah menengahnya agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depannya kelak.


“apa jadinya saya di tahun-tahun mendatang?apakah saya akan melanjutkan studi ke universitas? Akan setujukah paman mengirimkan saya melanjutkan studi?” (halaman 40).


Kekuasaan sosok Ayah yang memegang kendali keluarga tanpa adanya orang lain yang turut dalam mengendalikan kekuasaan itu juga tercermin dalam beberapa cuplikan di bawah ini :


[…]Gubuk kami dingin hawanya, tetapi di musim dingin justru ayah menggeser tikar jerami saya beserta bantalnya ke bilik kecil yang menghadap ke utara, dan menempati sudat tempat saya di dalam ruangan tungku. Dan bukannya tetap tinggal di sisi saya untuk membuat saya hangat, ibu biasanya membiarkan saya tidur sendirian dan pergi ke ayah untuk membuat dia hangat. Di musim panas saya bisa melihat ibu duduk dekat kaki ayah dengan sebuah mangkuk timah di tangannya ketika ia membasuh kakinya dengan air dingin (halaman 24)


Jika salah satu anak perempuannya mati, ayah akan menyantap makan malamnya, ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu, kemudian makan malam dan kemudian merebahkan dirinya untuk tidur. Ayah tak akan pergi tidur tanpa makan malam lebih dulu, apapun yang terjadi. Kadang-kadang apabila tak ada makanan di rumah, kami semua akan pergi tidur dengan perut kosong. Tetapi dia selalu memeroleh makanan. Ibu akan menyembunyikan makanannya dari kami di dasar sebuah lubang tungku. Ia makan sendirina sedangkan kami mengamatinya saja. Pada suatu malam saya memberanikan diri untuk mengulurkan tangan kea rah piringnya, tetapi ia member sebuah pukulan yang keras pada punggung dan jari-jari saya (halaman 26).


Beberapa cuplikan di atas memberikan informasi atau bukti betapa teganya sosok seorang ayah kepada keluarganya terutama terhadap anak perempuannya yang bernama Firdaus. Sosok ayah tersebut tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan anaknya nanti jika ia tidur dalam kondisi kedinginan sedangkan tempat yang dirasa paling hangat dan nyaman ditempati untuk dirinya sendiri dengan membiarkan anaknya tetap kedinginan, membiarkan anak-anaknya lapar sedangkan ia sendiri tidak pernah pergi tidur sebelum makan terlebih dulu bahkan ketika tidak ada makanan sekalipun, istrinya tetap berusaha mencari dan menyembunyikan makanan dari anak-anaknya hanya untuknya, selain itu juga suka memukul istrinya ketika anak-anaknya yang meninggal itu adalah anak laki-laki. Tetapi ketika yang meninggal itu anak perempuan maka ia akan menyantap makan malamnya, kemudian pergi tidur, seakan tidak terjadi apa-apa. Bentuk deskriminasi yang dilakukan oleh sosok ayah dalam keluarga ini sangat mencolok untuk memperlakukan anak-anaknya antara laki-laki dan perempuan.


Dari data-data diatas dapat diketahui bahwa deskriminasi laki-laki terhadap perempuan dalam bidang pedidikan tersebut mengambarkan  bentuk  dominasi  ayah  kepada anak-anaknya,  yaitu  dalam  novel  ini  digambarkan  seorang  ayah  yang  tidak memperhatikan   kepentingan   pendidikan   anak   perempuannya.   Sosok   ayah digambarkan sebagai seorang laki-laki yang berkuasa di dalam rumah tangga dan dengan  superioritasnya  berperan  sebagai  orang  nomor  satu  dalam  keluarganya. Anak perempuan dianggap  sebagai  pekerja  rumah tangga  yang  harus bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga seperti apa yang dilakukan oleh ibunya dan mengenyampingkan  kepentingan  pendidikan.  Temuan  hasil  penelitian  tersebut menjelaskan  bahwa  peran  seorang  ayah  atau  suami  terhadap  anak-anak  dan isterinya  adalah  sangat  berpegang  teguh  pada  budaya  patriarkhi.  Kurangnya perhatian  orang  tua  akan  kepentingan  pendidikan  bagi  anaknya  seperti  yang digambarkan  dalam  novel  Perempuan  di  Titik  Nol  tidak  terjadi  pada  semua tempat,  Kurangnya  fasilitas  pendidikan  bagi  kaum  perempuan  dan  menjadikan mereka  buta  huruf,  bukan  hanya  masalah  yang  dialami  oleh  masyarakat  mesir seperti yang digambarkan dalam wacana novel Perempuan di Titik Nol.



2.      Deskriminasi gender di bidang pekerjaan
Deskriminasi gender di bidang pekerjaan yaitu makna yang mengacu pada pembebanan rumah tangga kepada kaum perempuan dan kurangnya kesempatan kaum perempuan untuk mendapatkan pekerjaan di ruang public. Bentuk bentuk beban kerja yang dialami perempuan dalam novel Perempuan di Titik Nol ini dapat dilihat pada cuplikan-cuplikan di bawah ini :


“Di  atas  kepala,  saya  menjunjung  sebuah  kendi  tembikar yang  berat  penuh  berisi  air.  karena  beratnya,  kadang- kadang  leher  saya  tersentak  ke  belakang,  kekiri  atau  ke kanan.  saya  harus  mengerahkan  tenaga  saya  untuk  tetap menjaga  keseimbangan  di  atas  kepala  saya,  dan  menjaga agar  jangan  jatuh.  saya  gerakkan  kaki  dengan  cara  yang diajarkan ibu kepada saya, sedemikian rupa sehingga leher saya tetap tegak. saya masih muda ketika itu… (halaman ).


“Biasanya  ibu  menyuruh  saya  membawa  beban  pupuk  di
atas kepala saya ke ladang” (halaman ).


“Sebelum  matahari  muncul  di  langit,  ia  menyentuh  bahu saya dengan kepalan tangannya sedemikian rupa sehingga saya  akan  terbangun,  mengangkat  kendi  tembikar  dan pergi  untuk  mengisinya  dengan  air.  Sekembalinya  sayaakan   menyapu   kandang  ternak   lalu   membuat  jajaran gumpalan  kotoran  yang  dijemur  di  sinar  matahari.  Pada hari  membakar  roti,  saya  akan  membuat  adonan  tepung untuk membuat roti” (halaman ).


“ketika  saya  bertambah  besar  sedikit,  Ayah  meletakkan mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh   kakinya   dengan   air.   Sekarang   saya   telah menggantikan  ibu  dan  melakukan  pekerjaan  yang  biasa dilakukan ibu” (halaman ).


Berdasarkan  hasil  cuplikan-cuplikan di atas,  terungkap  bahwa  kehidupan  sehari-hari kaum perempuan berada dalam suatu konteks beban kerja. Beban untuk memberikan  pengasuhan  yang  tak  dibayar dalam  pelayanan-pelayanan  dalam  pekerjaan rumah  tangga.  Pekerjaan  perempuan  di  dalam  rumah  sudah  mulai  sejak  pagi hingga malam hari, artinya sama dengan jam kerja normal atau bahkan lebih banyak ketimbang rata-rata jam kerja di luar rumah. Hasil penelitian ini membuktikan kebenaran pendapat Saadawi (2003:208) yang menyatakan bahwa seluruh pekerjaan rumah tersebut dilakukan perempuan tanpa bayaran, tanpa adanya pengakuan bahwa pekerjaannya itu termasuk pekerjaan  produktif  dalam  masyarakat,  yaitu  pengakuan  bahwa  pekerjaan  di  dalam rumah juga berperan dalam perekonomian.



3.      Deskriminasi gender di bidang hukum
Deskriminasi gender di bidang hukum yaitu mengacu pada kekerasan yang berupa penindasan, penipuan, pelecehan, dan pelacuran oleh kaum laki-laki terhadap kaum perempuan.


“ayah  saya seorang petani  miskin,  yang tak dapat  membaca maupun  menulis,  sedikit  pengetahuannya  dalam  kehidupan bagaimana  caranya  bertanam,  bagaimana  menjual  kerbau yang telah diracuni  oleh musuhnya sebelum mati, bagaimana menukar anak gadisnya dengan imbalan mas kawin bila masih ada   waktu,   bagaimana   caranya   mendahului   tetangganya mencuri tanaman  pangan yang  matang di  ladang. Bagaimana meraih     tangan     ketua     kelompok     dan     berpura-pura menciumnya,      bagaimana      memukul      isterinya      dan memperbudaknya tiap malam” (halaman ).


Pada cuplikan di atas, kepala keluarga (Ayah) lah yang memegang peranan terpenting dalam keluarga. Semua kondisi dalam keluarga dikendalikan oleh sang Ayah yang mengikuti aliran patriarkhi.


Kaum  perempuan  sering  mendapat  diskriminasi  oleh  anggota keluarga  yang  laki-laki.  Mereka  menganggap  bahwa  perempuan  tidak pantas mendapat pendidikan tinggi, yang memperoleh pendidikan tinggi hanyalah  laki-laki,  sedangkan  perempuan  bekerja  di  dapur.  Kekuasan tertinggi  ada  di  tangan  laki-laki  apapun  yang  terjadi  kaum  laki-lakilah yang boleh memberi keputusan (Nunuk, 2004a: ix).


“Di  musim  panas  saya  dapat  melihat  ibu  duduk  dekat  kaki ayah  dengan  sebuah  mangkuk  timah  di  tangannya  ketika  ia membasuh kakinya dengan air dingin. Ketika saya bertambah besar  sedikit,  Ayah  meletakkan  mangkuk  itu  di  tangan  saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air” (halaman ).


”Ayah tak akan pergi tidur tanpa makan malam lebih dulu, apa pun yang terjadi.  Kadang-kadang apabila tak ada makanan di rumah,  kami  semua  akan  pergi  tidur  dengan  perut  kosong. Tetapi    dia    selalu    memperoleh    makanan.    Ibu    akan menyembunyikan  makanannya  dari  kami  di  dasar  sebuah lubang    tungku.    Ia    makan    sendirian    sedangkan    kami mengamatinya saja” (halaman ).


“Tetapi belum lama saya membaringkan diri untuk istirahat karena lelah sesudah memasak, mencuci serta membersihkan rumah  yang  besar  itu  dengan  ruangan  yang  penuh  meubel, maka Syekh Mahmoud akan muncul di samping saya” (halaman ).


“Pada  suatu  peristiwa  dia  memukul  seluruh  badan  saya dengan  sepatunya.  Muka  dan  badan  saya  menjadi  bengkak dan  memar.  Lalu  saya tinggalkan rumah dan  pergi  ke rumah paman.  Tetapi  paman  mengatakan kepada saya bahwa semua suami  memukul  isterinya…  seorang  isteri  yang  bijak  tidak layak   mengeluh  tentang   suaminya.   Kewajibannya  adalah kepatuhan yang sempurna. Saya tak tahu harus menjawab apa, sebelum  pembantu  mulai  meletakkan  makan  siang  di  meja, paman telah mengantarkan saya kembali kerumah suami saya” (halaman ).


Hasil  penelitian  ini  menemukan  bahwa  kurangnya  perlindungan  hukum terhadap kekerasan yang terjadi pada perempuan. Kekerasan yang dimaksud adalah kekerasan dalam bentuk pemukulan dan pemaksaan terhadap perempuan oleh kaum  laki-laki  dalam  keluarga.  Laki-laki  lebih  berkuasa,  sehingga  kaum  isteri harus tunduk patuh atas apapun yang dilakukan oleh suami mereka. Hal tersebut sejalan  dengan  pendapat  Irianto  (1999:9)  yang  mengatakan  bahwa  kenyataanmenunjukkan  bahwa  hukum  diinformasikan  oleh  laki-laki,  dan  bertujuan  untuk memperkokoh hubungan-hubungan sosial yang patriarkhi. Berdasarkan  hasil  analisis,  perempuan  ditampilkan  sebagai  posisi  subordinat  yang  menyebabkan  rendahnya  pandangan  laki-laki  terhadap  kemampuan perempuan  untuk  bekerja  di  sektor  publik.  Kaum  laki-laki  menganggap  bahwa kaum  perempuan  hanya  pantas  bekerja  di  dalam  rumah  atau  pekerjaan  rumah tangga dan melayani suami.


Cuplikan-cuplikan yang disajikan diatas memberikan gambaran tentang Firdaus bahwa di usianya yang masih duduk di bangku sekolah sudah memiliki keinginan untuk menentang pemerintah yang selama ini dijabat oleh laki-laki. Keinginan untuk menentang pemerintah yang selalu diduduki oleh kaum laki-laki diusianya yang masih terbilang muda untuk urusan politik itu mungkin karena kebenciannya terhadap laki-laki yang selama ini ia ketahui sebagai kaum yang selalu berbuat sewenang-wenang terhadap kaum perempuan dan selalu membuat kaum perempuan merasa menderita dan dirugikan. Misalnya seperti ayahnya yang ia benci karena tidak pernah berusaha melindungi anaknya dari hal-hal yang berbahaya, selalu berbuat kasar terhadap ibunya dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Perhatikan cuplikan di bawah ini :


Selain deskriminasi yang terjadi dalam keluarga tersebut, juga terjadi deskriminasi yang menimpa kaum perempuan dari monolog tokoh Firdaus seperti dalam cuplikan di bawah ini :


Saya tahu bahwa perempuan tidak bisa menjadi kepala Negara, tetapi saya merasa tidak seperti perempuan yang lainnya, juga anak-anak perempuan lain di sekitar saya yang tetap saja berbicara tentang cinta. , atau tentang laki-laki karena itu adalah soal yang tidak perlu saya sebutkan. Entah bagaimana, saya tidak tertarik kepada hal-hal yang menyibukkan pikiran mereka, dan apa yang dianggap penting oleh mereka bagi saya hanya merupakan hal yang sepele. (halaman 36)


Dari cuplikan-cuplikan di atas dapat kita ketahui bagaimana kesenjangan atau deskriminasi gender dalam berbagai bidang, yakni pemerolehan pendidikan, pekerjaan dan hukum bagi kaum laki-laki dan perempuan yang terjadi dalam novel Perempuan di Titik Nol ini. Elazhar hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki saja. Terlihat jelas bahwa perempuan punya kemungkinan kecil atau bahkan tidak punya harapan sama sekali untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi seperti yang bisa didapatkan oleh kaum laki-laki. Tokoh Firdaus dalam novel ini cukup mewakili deskriminasi-deskriminasi yang terjadi pada perempuan pada umumnya.  Selain itu juga terjadi deskriminasi dalam keluarga serta dalam memilih pekerjaan dimana perempuan tidak bisa menjabat sebagai kepala negara seperti yang telah diceritakan dalam novel ini.

0 komentar:


Silakan Bekomentar.!!!


Semakin banyak berkomentar, semakin banyak backlink, semakin cinta Search Engine terhadap blog anda
:a:
:b:
:c:
:1: :2: :3: :4: :5: :6:
:7: :8: :9: :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =)) :-t b-( :a :b :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :-L x( =)) :thanx: :bingung: :sundul: :iloveindonesia: :marah: :ngacir: :kiss: :bata: :10: :11: :12:

Poskan Komentar

jangan lupa komentarnya yah!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons