Rabu, 16 Desember 2009

FENOMENA KEBAHASAAN

Sejak awal tahun tujuh puluhan atau sejak banyaknya kegiatan pegawai dan pejabat pemerintah bertugas ke tempat lain, sering kita dengar percakapan sebagai berikut:
(1) Minggu depan saya pergi keluar kota.
Ke mana?
Semarang
(2) Persoalan ini nanti akan kita bicarakan lagi setelah saya kembali dari luar kota.
Memang bapak mau ke mana?
Sumatra Utara
(3) Bapak Andi bukan mau keluar kota, melainkan keluar negeri.
Ke mana?
Singapura
Pada dialog (1) makna frase keluar kota sama dengan Semarang. Masalahnya adalah bukankah Semarang itu juga kota. Padahal kalau di katakana keluar kota berarti keluar dari kota atau tidak berada dala kota lagi. Dalam dialog tersebut keluar kota artinya orang yang berbicara itu akan pergi keluar dari kota tempat tinggalnya dan menuju ke kota lain yaitu semarang. Berarti arti keluar kota disini ialah keluar dari kota tempat ia tinggal.
Pada dialog (2) frase luar kota sama maknanya dengan Sumatera Utara. Sumatra Utara adalah bukan kota melainkan sebuah provinsi yang berada di pulau Sumatera Utara, dan yang di dalamnya terdapat sejumlah kota. Dalam dialog tersebut mempunyai makna bahwa orang yang berbicara itu berada di dalam suatu desa yang berada di Sumatera Utara bukan kota. Jadi, frase luar kota disini mempunyai makna keluar dari kota menuju desa.
Pada dialog (3) frase keluar kota memiliki makna keluar dari kota sendiri, pergi ke tempat lain, entah ke suatu desa atau ke kota lin yang berada di negara lain. Jadi keluar kota disini mempunyai makna keluar dari negara sendiri dan pergi ke negara lain.
Frase keluar kota dewasa ini bisa bermakna pergi ke kota lain yang bukan kotanya sendiri atu pergi ke suatu tempat yang bukan kota melainkan desa. Berbeda dengan frase keluar kota yang bisa bermakana keluar negeri karena frase ini Nampak lebih jelas maknanya yanti pergi ke negara lain.
Dalam masalah makna bahasa sebenarnya ada mekaisme kearbriteran. Sebuah satuan bahasa, kata atau frase, yang secara ilmiah atau logika adalah salah, tetapi didalam bahasa dianggap benar seperti kata ikan paus. Secara biologi, yang kita sebut ikan paus sebenarnya bukan ikan, melainkan termasuk binatang mamalia. Namun, dalam bahasa Indonesia sudah lazim dan tidak perlu dipersoalkan. Demikian juga ungkapan keluar kota bisa juga pergi ke kota lain, yang penting keluar dari kota sendiri.
















SEJARAH PEMIKIRAN MODERN
MODEL BERPIKIR RENAISANCE

0 komentar:


Silakan Bekomentar.!!!


Semakin banyak berkomentar, semakin banyak backlink, semakin cinta Search Engine terhadap blog anda
:a:
:b:
:c:
:1: :2: :3: :4: :5: :6:
:7: :8: :9: :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =)) :-t b-( :a :b :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :-L x( =)) :thanx: :bingung: :sundul: :iloveindonesia: :marah: :ngacir: :kiss: :bata: :10: :11: :12:

Poskan Komentar

jangan lupa komentarnya yah!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons