Rabu, 16 Desember 2009

ANALISIS CERPEN LINTAH

PENDAHULUAN
Dalam cerpen yang berjudul “LINTAH” ini berawal dari tokoh Ibu yang memelihara seekor lintah di rumahnya dan dibuatkan kandang di rumahnya. Namun tokoh anak sangat tidak suka ibunya memelihara lintah. Lintah disini adalah julukan yang diberikan oleh tokoh aku kepada seorang lelaki yang sangat dekat hubungannya dengan ibunya bahkan hampir seperti suami istri.
Lintah sering melakukan hal yang membuat kebencian tokoh aku terhadap lintah semakin menjadi-jadi. Terkadajuga, tanpa sepengetahuan tokoh ibu, lintah tak jarang juga berbuat kurang ajar terhadap tokoh aku. Beberapa kali tokoh aku mencoba mengadu kepada ibunya dengan harapan agar bisa menghentikan kebiasaan buruk lintah itu, tetapi ibunya malah tidak percaya dan bilang kepada anaknya kalau dia Cuma mengada-ada karena di depan ibu lintah menunjukkan sikapnya yang sangat manis.
Semakin hari kelakuan lintah semakin menjadi-jadi. Kini sasarannya bukan hanya kepada ibunya tetapi juga kepada tokoh aku. Dulu dia hanya melakukan hubungan intim itu dengan ibunya, kini hal itu dilakukannya juga kepada tokoh aku. Itu membuat tokoh aku semakin membenci lintah yang dari awal sangat tidak disukainya itu.
Suatu ketika, lintah mendengar kabar dari ibuny bahwa ibunya sedang mengandung dan akan segera menikah. Dengan perasaan senang dan penuh harapan tokoh aku bertanya siapakah yang lelaki bahagia itu. Namun jawaban ibunya mematahkan seluruh asanya karena ternyata calon ayah tirinya adalah lintah.

GAYA BAHASA
Dalam cerpen yang berjudul “Lintah” ini menggunakan banyak gaya bahasa untuk mengungkapkan sesuatu yang dirasakan oleh pengarang sehingga penggunaan bahasa dalam cerpen ini tidak monoton. Adapun macam-macam gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen “Lintah” ini antara lain :
1. Majas Metafora : semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung tetapi dalam bentuk yang singkat. Misalnya yang terdapat dalam novel ini Djenar Maesa Ayu menyebut tukoh utama dengan sebutan “lintah”. Memang dalam sebagian besar karyanya dia sering memberikan julukan kepada tokoh-tokoh yang ada dalam cerita dengan sebutan salah satu nama binatang. Hal itu digunakan untuk menggambarkan karakter tokoh yang seperti binatang namun tidak secara keseluruhan karena wujud fisiknya manusia. demikian juga dengan pemberian judul “Lintah” dalam cerpen ini. Lintah adalah hewan kecil yang jika dilihat sepintas, lintah tidak menunjukkan bahwa dirinya berbahaya, namun sebenarnya lintah adala hewan penghisap darahyang tidak akan melepaskan dirinya dari mangsanya sebelumtubuhnya benar-benar membesar oleh darah mangsanya. Karakter lintah tersebut sama dengan karakter tokoh utama yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Oleh karena, pengarang member julukan lintah kepada tokoh utama.

2. Majas Hiperbola
Semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesa-besarkan suatu hal. Kalimat yang mengandung majas hiperbola ini terkandung dalam kutipan sebagai berikut :
“dan saya sangat kaget melihat seekor ular yang merah menyala.” (halaman 13).
Dalam penggunaan kata merah menyala dalam kalimat tersebut memberikan penekanan terhadap ekspresi jiwa pengarang sehingga menimbulkan kesan indah tersendiri. Majas hiperbola juga terdapat dalam kalimat lain seperti contok pada beberapa kutipan di bawah ini :
“mata ular-ular itu lebih menyala melihat penderitaan saya.”(halaman 13)
“matanya warna merah saga menyala.” (halaman 17)
“kembali petir meledak”.

3. Majas Personifikasi
Semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan. Misalnya yang terdapat dalam kutipan sebagai berikut :
“keingintahuan saya mendesak kuat.” (halaman 12)
Dalam pemakaian majas ini diaksudkan untuk menghidupkan benda yang tak bernyawa. Keingintahuan pada faktanya tidak bisa melakukan sesuatu perbuatan mendesak karena yang bisa melakukannya hanyalah benda yang bernyawa. Dalam contoh lain :
“dengkurannya sangat mengganggu dan bau tidak sedap menyergap seisi ruangan itu.” (halaman 14)
“dan mata lintah kelihatan benar-benar tertawa.” (halaman 14)
“hari itu terik matahari begitu menyengat.” (halaman 16)
“bau wangi menyergap hidung saya, menyergap kerinduan, menyerga perasaan.” (halaman 16)
“Kilatnya memperjelas senyum ibu” (halaman 17)
“angin membuka tirai jendela.”

4. Majas Periferasis
Majas ini mirip dengan pleonasme namun perbedaannya dapat diganti dengan satu kata saja. Misalnya yang terdapat pada kutipan di bawah ini :
“lintah-lintah yang terus menghisaphingga tubuh mereka menjadi merah.”. artinya yaitu puas
“mata saya membeliak lebar.” Mengisyaratkan kaget.

PENUTUP
Dalam cerpen yang berjudul “Lintah” ini menggunakan bermacam-macam gaya bahasa. Diantaranya yaitu penggunaan majas-majas seperti majas hiperbola, personifikasi, metafora dan periferasis. Tujuan digunakan gaya bahasa seperti ini yaitu agar tidak menimbulkan kesan monoton bagi cerpen itu sendiri sehingga tidak membosankan.

0 komentar:


Silakan Bekomentar.!!!


Semakin banyak berkomentar, semakin banyak backlink, semakin cinta Search Engine terhadap blog anda
:a:
:b:
:c:
:1: :2: :3: :4: :5: :6:
:7: :8: :9: :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =)) :-t b-( :a :b :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :-L x( =)) :thanx: :bingung: :sundul: :iloveindonesia: :marah: :ngacir: :kiss: :bata: :10: :11: :12:

Poskan Komentar

jangan lupa komentarnya yah!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons