Rabu, 16 Desember 2009

7 UNSUR KEBUDAYAAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam kebudayaan terdapat unsur-unsur berbagai kebudayaan secara universal. Unsur-unsur universal itu yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini, adalah :
1. sistem religi
2. sistem kemasyarakatan
3. sistem pendidikan
4. sistem mata pencaharian
5. sistem ilmu pengetahuan dan tekologi
6. sistem bahasa
7. sistem kesenian
Unsur-unsur kebudayaan itu akan dijumpai pada setiap belahan dunia pada kelompok masyarakat yang berbudaya. Dimana setiap unsur-unsur kebudayaan tersebut akan berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Kebudayaan antar daerah tersebut mempunyai daya tarik tersendiri dan sebagai pembeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya serta merupakan asset yang paing berharga.
Dengan adanya perbedaan-perbedaan kebudayaan tersebut bukan berarti mereka harus dibedakan antara satu sama lain tetapi sebaliknya, perbedaan-perbedaan tersebut seharusnya di pergunakan sebagai alat pemersatu bangsa karena semakin banyaknya perbedaan kebudayaan dalam suatu bangsa, berarti bangsa tersebut kaya akan budaya.
Seperti halnya di Bangsal, suatu lingkup daerah tingkat kecamatan di kabupaten Mojokerto, mempunyai unsur-unsur kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan yang ada di daerah lain. Bahkan tidak menutup kemungkinan kebudayaan tersebut akan berbeda dengan daerah yang masih dalam satu kabupaten.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah unsur-unsur kebudayaan di masyarakat Bangsal?
1.3 Tujuan
1.3.1 untuk mengetahui unsur-unsur kebudayaan di masyarakat Bangsal














BAB II
PEMBAHAAN

1.1 Sistem Religi
Agama Islam pada umumnya berkembang baik di kalangan masyarakat jawa termasuk di daerah Bangsal dan sekitarnya. Hal ini tampak nyata pada bangunan-bangunan khusus untuk tempat beribadah orang-orang yang beragama islam. Walaupun demikian tidak semua orang Islam beribadat menurut agama Islam karena di Mojokerto bahkan Islam yang ada di ulau Jawa ini pemeluk agama Islam dibagi menjadi dua yaitu yang disebut islam santri dan islam kejawen.
Islam santri yaitu penganut agama islam yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Sedangkan islam kejawen yaitu orang-orang yang memeluk agama islam yang tidak begitu focus pada ajaran-ajaran agama islam, misalnya islam kejawen tidak menjalankan shalat, atau puasa, serta tidak bercita-cita naik haji, tetapi mereka tetap percaya ajaran keimanan agama Islam. Tuhan, mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah kanjeng nabi. Selain itu orang Islam kejawen terhindar dari kewajiban zakat.
Selain hal-hal yang telah di jelaskan diatas, masyarakat Bangsal juga mempercayai adanya kekuatan yang melebihi segala kekuatan yang ada dimana saja yang pernah di kenal, yaitu kesakten, arwah atau ruh leluhur, dan makhluk-makhluk halus seperti memedi, lelembut, tuyul, demit, jin dan jenis makhluk halus yang lainnya. Masyarakat Bangsal juga percaya bahwa makhluk halus tersebut bisa mendatangkan kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman, ataupun keselamatan. Tetapi sebaliknya makhluk tersebut juga bisa menimbulkan gangguan pikiran, kesehatan bahkan kematian. Maka jika seseorang ingin hidup tanpa menderita gangguan itu, ia harus melakukan sesuatu yang bisa menghindarkan orang trsebut dari gangguan-gangguan itu, misalnya berprihatin, berpuasa, berpantang melakukan perbuatan serta makaa makanan tertentu, berselamatan dan bersaji. Berselamatan dan bersaji sering dilakukan oleh masyarakat Bangsal di waktu-waktu tertentu dan dalam kehidupan sehari-hari.
Selamatan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang telah di beri doa sebelum dibagi-bagikan. Selamatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. Hal itu juga berasal dari kata nama itu sendiri yaitu selamat. Upacara ini biasanya di pimpin oleh modin, yakni salah seorang pegawai masjid. Moden dipanggil karena dianggap mahir membaca doa keselamatan dari dalam ayat-ayat Al-Quran.
Ada enam jenis upacara selamatan yaitu ;
1. selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, misalnya hamil tujuh bulan, kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, sunat, kematian, serta saat-saat setelah kematian.
2. Selamatan yang berhubungan dengan desa yaitu misalnya ruwah deso yang diselenggarakan pada bulan ruwah sesuai dengan kalender jawa yang tujuannya yaitu untuk menghindarkan desa dan masyarakatnya dari segala gangguan, penggarapan tanah pertanian yang biasa di sebut oleh orang mojokerto dengan nama mbuntoni, dan setelah panen padi yang disebut wiwid.
3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan islam misalnya riyoyo besar yakni selamatan yang dilakukan pada tanggal 1 syawal, megengan yaitu selamatan yang dilakukan sebelum puasa Idul Fitri.
4. Selamatan pada saat-saat tidak tertentu, misalnya menempati rumah kediaman baru (ngalaboni omah), menolak bahaya (ngeruwat), dan lain-lain.
Selain selamatan, masyrakat Bangsal juga sering melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sesajen. Sesajen yaitu penyerahan sajian pada saat-saat tertentu kepada makhluk halus, di tempat-tempat tertentu misalnya dibawah tiang rumah, di persimpangan jalan, di kolong jembatan, dan di bawah pohon-pohon besar, di tepi sungai, serta tempat-tempat lain yang dianggap keramat dan mengandung bahaya Ghaib (angker).
Sesajen yang yang di sajikan tergantung dari jenis kegiatannya. Tetapi yang paling sering adalah sesajen yang berisi kembang boreh (bunga yang biasanya di taburkan diatas makam oleh orang yang bertakziyah), telur ayam kampong, rokok, bumbu inang (suruh dan gambir), rempah-ampah, tumpeng, uang recehan, pisang, dan bubur merah.


Adapun kepercayaan terhadap kekuatan benda misalnya pusaka, keris, dan benda-benda lain yang diyakini mempunyai kekuatan.
Selain agama islam, ada beberapa dari masyarakat Bangsal yang memeluk agama Kristen, Katholik, Budha Dan Hindu. Masyarakat Bangsal yang memeluk agama selain islam tersebut bukan penduduk asli daerah Bangsal, melainkan masyarakat pendatang yang tinggal di daerah Bangsal baik untuk urusan pekerjaan atau pendatang yang memang sengaja tinggal menetap di daerah Bangsal. Karena pada umumnya seluruh penduduk asli Bangsal memeluk agama islam, baik islam santri maupun islam kejawen.


1.2 Sistem Kekerabatan
System kekerabatan orang Mojokerto yaitu system kekerabatan bilateral yaitu menganut garis keturunan ayah dan ibu.


Masyarakat Bangsal juga meyakini bahwa orang Tinggar dan orang Salen tidak boleh melangsungkan perkawinan antar warga desa tersebut karena di percaya dapat menimbulkan malapetaka bahkan sampai kematian bagi yang salah satu atau kedua mempelai. Tinggar dan Salen tersebut, keduanya merupakan dua dari beberapa desa-desa lain yang berada dibawah kecamatan Bangsal.
Ada beberapa perkawinan yang di perbolehkan yaitu pernikahan antara dua orang yang tidak mempunyai hubungan-hubungan seperti yang telah di jelaskan di atas, ngarang wulu yakni perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhumah isterinya, dan wayuh yakni suatu perkawinan lebih dari satu orang isteri.
Tahap-tahap sebelum melangsungkan perkawinan yaitu pertama lamaran dimana pihak pria datang kerumah wanita untuk menanyakan kepada keluarga wanita apakah si wanita boleh di persunting oleh si pria.kedua, peningsetan yaitu upacara pemberian harta dari calon mempelai laki-laki kepada kerabat si gadis yaitu orang tua atau walinya. Harta itu biasanya berupa sepasang pakaian orang wanita lengkap, terdiri dari sepotong kain dan kebaya yang disebut pakaian sakpengadek. Kadang ada yag disertai dengan sebuah cincin kawin sebagi tanda bahwa gadis tersebut sudaah terikat untuk melangsungkan perkawinan.ketiga, tegesgawe yaitu membicarakan tentang tanggal dan bulan perawinan di sesuaikan dengan perhitungan weton yaitu perhitungan hari kelahiran kedua oleh calon pengantin, berdasarkan berdasarkan kombinasi nama system perhitungan tanggal Masehi dengan perhitungan tanggal sepasaran (mingguan orang Jawa). Kemudian tahap yang terakhir yaitu nikahan. Nikahan adalah upacara pengucapan ijab qbul atau akad nikah.

1.3 Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan yang ada pada masyarakat Bangsal ini bisa dikatakan sedikit demi sedikit mulai berkembang. Memang masih terbilang cukup banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikannya setelah SMA. Tetapi semakin bertambah tahun, bertambah juga jumlah masyarakat yang melanjutkan pendidikan tingginya setelah lulus SMA. Bahkan ada beberapa orang yang sudah berkeluarga, yang dulunya hanya lulusan SMA, sekarang mereka mulai meneruskan pendidikannya meskipun hanya di universitas swsata.
“Saya sangat menyesal karena dulu setelah lulus SMA saya tidak mau melanjutkan kuliah, padahal orang tua saya sangat berharap saya mau melanjutkan pendidikan saya tetapi saya minta untuk di nikahkan saja. Jadi sebelum penyesalan itu makin terasa, sekarang saya melanjutkan pendidikan tinggi saya di UT (Universitas Terbuka) di Surodinawan Mojokerto”. Ujar Laila, salah satu Penduduk Bangsal yang langsung menikah setelah lulus SMA.

1.4 Sistem Mata Pencaharian
Sebagian besar masyarakat Bangsal berpenghasilan dari bertani. Di samping itu ada beberapa masyarakat Bangsal yang bermata pencaharian sebagai pegawai negeri sipil, pedagang, buruh, dan lain sebagainya.
Di dalam melakukan pekerjaan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat Bangsal, diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering (tegalan), terutama mereka yang hidup didaerah pegunungan, sedangkan yang lain yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian mereka untuk dijadikan sawah. Biasanya disamping tanaman padi, beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu-waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-sawah itu seperti ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, kacang tunggak, dan lain-lain. Pada mulanya tanah sawah dibuat bertingkat-tingkat atau datar saja dengan diberi pematang sebagai penahan air. Sebelum ditanami, tanah-tanah itu diolah terlebh dahulu. Pada mula-mulanya, tanah digarap dengan bajak. Gunanya adalah untuk membalik tanah sehingga dapat lebih mudah ditugali yaitu pekerjaan menghancurkan tanah dengan cangkul. Di Daerah Bangsal, masih ada beberapa petani yang membajak sawahnya dengan menggunakan hewan ternaknya, yaitu, kerbau atau sapi. Setelah itu, tanah didiamkan selama satu minggu kemudian baru diolah dengan garu. Maksudnya agar tanah menjadi lunak dan lumat yang dibantu oleh pengairan. Lalu diberi pupuk hijau dan pupuk kandang. Setelah itu, tanah sawah dibiarkan lagi selama satu minggu sambil digenangi air. Pengolahan yang terakhir yaitu, sawah dibajak lagi, digenangi air dan pupuk dan sekali lagi di garu. Barulah sawah tersebut siap ditanami padi. Sebelum ditanam disawah, bibit padi di sebarkan dan disemaikan dalam persemaian padi. Butir padi yang dipilih ialah yang masih dalam keadaan tumbuh atau melekat pada batangnya. Kemudian batang-batang padi tersebut dipotong dan diikat dalam beberapa ikatan (untingan). Lalu dijemur selama satu hari kemudian butir-butirnya di tanggali dan dimasukkan ke dalam bakul besar. Bakul tersebut harus direndam air satu hari satu malam dan setelah itu ditutup dengan daun pisang dua sampai tiga hari. Kalau sudah tumbuh kar-akarnya, maka bibit tersebut sudah dapat di sebarkan di persemaian. Setelah 15-30 hari dilakukan pemindahan tunas batang padi ke sawah yang disebut ndaut. Kemudian setelah padi masak dilakukan kegiatan ani-ani yaitu panen. Kemudian padi itu digiling dengan tujuan memisahkan batang padi dengan bijinya.


Sistem Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Sistem ilmu pengetahuan dan teknologi ini sedikit demi sedikit mulai berkembang di masyarakat Bangsal. Hal ini bisa dilahat dari telepon seluler yang sudah dimiliki oleh kebanyakan masyarakat Bangsal. Selain itu, tidak sedikit juga dari masyarakat Bangsal yang sudah bisa memiliki dan menggunakan barang hasil teknologi seperti computer, kalkulator, translator, camera digital, laptop dan lain-lain. Alat-alat pertanian seperti alat pembajak sawah juga sudah banyak yang menggunakan mesin pembajak sawah.


Sistem Bahasa
Di dalam pergaulan-pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial sehari-hari masyarakat Bangsal menggunakan bahasa Jawa. Pada waktu menggunaka bahasa daerah ini, seseorang haru bisa membeda-bedakan keadaan orang yang diajak bicara atau sedang dibicarakan, bardasarkan usia atau status sosialnya.
Ada dua macam bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Bangsal yaitu, bahasa Jawa Ngoko dan Krama.
Bahasa Jawa Ngoko merupakan bahasa apa adanya, tanpa adanya tujuan untuk memberikan pengormatan. Bahasa jawa Ngoko ini dipakai untuk :
1. Anak-anak yang belum mengerti apa-apa (kanak-kanak)
2. Orang yang berbicara dengan orang yang seumurannya
3. Orang tua yang berbicara dengan anak muda
4. Pemimpin yang berbicara dengan bawahannya
Bahasa jawa ngoko ini masih dibagi lagi menjadi dua yaitu bahasa Jawa Ngoko Lugu dan bahasa Jawa Ngoko Andap.
Bahasa Jawa Ngoko Lugu merupakan bahsa jawa Ngoko apa adanya, tanpa tercampur dengan bahasa yang krama. Contoh :
1. Koen maeng numpak opo?
2. Arek-arek podho melaku-melaku
Bahasa Jawa Ngoko Andap merupakan bahasa Jawa Ngoko yang sudah tecampur dengan Bahasa jawa krama. Contoh :
1. Sliramu mau nitih opo?
2. Sampeyan mau numpak opo?
3. Panjenengan mau nitih opo?
4. Pak Sastra ora sida tindak-tindak
Bahasa Jawa Krama merupakan bahasa yang dipergunakan untuk menghormati seseorang. Bahasa jawa krama digunakan oleh :
1. Anak muda yang berbicara dengan orang yang lebih tua
2. Murid kepada guru
3. Anak kepada oran tuanya
4. Bawahan kepada atasannya
Beberapa wujud dari bahasa jawa Krama adalah :
a. Wujud dari bahasa Jawa Ngoko yang di kramakan :
Kurang  kirang
Dadi  dados
Upama  upami
Cedhak  celak
Mau  wau
Nganti  ngantos
Kowe  panjenengan
b. Wujud kata lain, namun artinya tetap atau kata yang berasa dari serapan bahasa asing, contohnya :
Telu  tiga
Lima  gangsal
Omah  griya
c. Wujud kata yang sama dengan bahasa Ngoko, seperti : wani, pancen, anyar, wulang, dan sebagainya. Kata-kata seperti itu disebut dengan bahasa krama Ngoko.
d. Wujud kata yang boleh dikramakan atau yang tidak dikramakan, kata itu disebut dengan kata krama wenang, contohnya:
Rokok  ses
Utama  utami
Ijen  piyambek
Bahasa Jawa Krama Inggil ialah tingkatan bahasa yang lebih tinggi dari bahasa Jawa Krama. Bahasa Jawa Krama Inggil ini disebu sebagai bahasa kurmat luhur. Kata-kata bahasa Jawa Krama Inggil tdak terlalu banyak, Krama Inggil hanya menjelaskan mengenai nama anggota badan, tempat, tindakan, keadaan, dan nama-nama barang yang sering digunakan oleh orang yang dihormati.
Contoh :
Ngoko Krama Krama Inggil Arti
Njaluk
Kandha
Mlaku
Lunga
Kowe Nyuwun
Matur
Mlampah
Kesah
Sampeyan Mundhut
Dhawuh, ngendika
Tindak
Tindak
Panjengengan Membeli
Berkata
Berjalan
Pergi
Kamu

1.7 Sistem Kesenian
Kesenian adalah media ekspresi jiwa. Kesenian yang sering kali diadakan di Bangsal ini yaitu kesenian wayang kulit, orkes, dan ludruk. Ketiga kesenian ini biasanya diadakan pada saat ada acara perkawinan, khitanan, bahkan pada saat Ruwah Deso yaitu upacara untuk keselamatan desa.



Pada saat pergelaran kesenian wayang ini, jika kebetulan ada masyarakat di desa tempat pagelaran wayang tersebut yang melahirkan pada hari saat wayang itu di gelar, maka bayinya harus di bawa ke acara tersebut dan di letakkan di pangkuan sang dalang sambil memainkan wayangnya. Setelah itu si bayi deberikan nama oleh dalang tersebut. Sejak saat itulah, terjai hubungan kekeluargaan antara bayi beserta keluarganya dengan dalang tersebut terjalin karena dalang tersebut dianggap sebagai bapak sang bayi dan sebaliknya. Hal tersebut oleh masyarakat Bangsal di sebut sampir.












BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Unsur-unsur kebudayaan secara universal ada tujuh yaitu :
1. sistem religi
2. sistem kekerabatab
3. sistem pendidikan
4. sistem mata pencaharian
5. sistem ilmu pengetauan dan teknologi
6. sistem bahasa
7. sistem kesenian
Antara daerah yang satu dan daerah yang lainnya mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Dari identifikasi diatas, dapat disimpulkan bahwa, masyarakat Bangsal sebagian besar beragama islam. Meskipun ada beberapa yang memeluk agama selain islam. Di lihat dari sistem kekerabatan, masyarakat Bangsal ini menganut sistem bilateral, menurut dua garis keturunan yaitu ayah dan ibu. Dari segi mata pencaharian sebagian besar dari hasil bertani. IPTEK dan sistem pendidikan masil dalam proses perkembangan meskipun lambat tetapi hal itu sudah cukup untuk menunjukkan suatu kemajuan. Masyarakat Bangsal mempergunkan bahasa Jawa Ngoko dan Krama Inggil. Penggunaan bahasa tersebut di lihat dari siapa yang diajak bicara. Dan yang terakhir yaitu sistem kesenian. Kesenian yang kerap kali diadakan di daerah Bangsal ini dalam berbagai kegiatan yaitu kesenian wayang kulit, orkes dan ludruk.

0 komentar:


Silakan Bekomentar.!!!


Semakin banyak berkomentar, semakin banyak backlink, semakin cinta Search Engine terhadap blog anda
:a:
:b:
:c:
:1: :2: :3: :4: :5: :6:
:7: :8: :9: :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =)) :-t b-( :a :b :)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :c :d :e :f :g :h :i :j :k :l :-L x( =)) :thanx: :bingung: :sundul: :iloveindonesia: :marah: :ngacir: :kiss: :bata: :10: :11: :12:

Poskan Komentar

jangan lupa komentarnya yah!!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons