Jumat, 13 Januari 2012

Sia - Sia

Bak menampung air pada gelas tengkurap atau cuma menyamping itu percuma. Bisa jadi gelas yang menengadah sudah terisi penuh. Mau menuang air pun percuma. Tapi air itu menggenang mengelilinginya. Mencoba menyusup melalui celah yang mungkin ada. Minimal bisa membasahi dinding-dinding membusungkan dada.

Angkuh memang!

Merayapi dinding arogan saling menyokong agar segera mencapai mulut yang menganga sebelum akhirnya nasib tak berpihak padanya.

Menguap!

Yang tertinggal hanyalah noda. Air terkikis habis tak meninggalkan sisa. Kenangan tentang air juga tak ada. Noda yang melekat badan dianggapnya hanya sebagai aib yang sia-sia!

#ASU

posted from Bloggeroid

Kamis, 12 Januari 2012

Di Persimpangan Pantura

Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang, tapi mengapa nasib tak berpihak juga?

Namaku Limbuk, asal Dukuh Menjangan. Hidupku isinya cuma kesedihan. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu, hidup ini memang sekadar mampir ngombe, singgah untuk minum.

Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam, tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu, ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya.

”Untung kamu masih bau kencur…” Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku.

Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Mata mereka isyaratkan birahi.

Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol, tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Kata orang, ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Esok hari pagi-pagi buta, ia telah menghilang. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap.

Aku tak mau lagi pergi bermain, keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada, sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. Gantung diri jelas tak menarik minat. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.

Ketika tawaran Yu Silam datang, aku seperti kejatuhan bintang. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak.

Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku, tak ada lagi aib yang ditutupi. Aku tahu, ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Tentu ia paham penderitaanku, bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama?

Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Meski rumah-rumah di sana lebih bagus daripada di desa, tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran.

”Ini bukan Jakarta, bodoh! Ini Patokbeusi, negeri seribu impian… ” sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku.

”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”

”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”

Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Nama yang aneh, apa nama kota memang aneh-aneh begitu?

”Ini daerah pantura, pantai utara Jawa,” jelasnya tak sabar.

”Kenapa belum terlihat pantainya?”

Yu Silam mendengus.

Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Menyiapkan air mandi, masak, termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana.

Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku, cukuplah uang jajan ala kadarnya. Toh aku selalu makan kenyang di rumahnya. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Enaknya luar biasa, simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya.

Dua tahun berlalu, Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Ia mulai sering masuk angin. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu.

”Ganti namamu, tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.” Gurau Yu Silam.

Aku terkekeh. Mungkin waktu aku lahir, bapak berharap aku semontok Limbuk, tokoh punakawan. Ternyata tak ada yang berubah. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku.

”Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho, Mbuk?”

”Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah?”

Aku cuma termangu dan membisu. ”Jangan takut, kalau kau rajin suntik tidak akan apa-apa.” Yu Silam tersenyum manis sekali.

Aku masih diam saja. Tak tahu harus bicara apa.

”Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki.” Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam, tapi hatiku serasa disilet-silet. Pedih dan perih.

Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Untung saja Mami di situ masih punya nurani, ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ.

Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega, sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Musik dangdut berdentum keras. Truk besar banyak diparkir di luar. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah, dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Tak tahu pasti aku, mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup?

Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan, tapi sudah jadi gengsi. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu.

”Jangan melamun saja, nanti piringnya pecah.” Mami menepuk bahuku perlahan.

Aku tersenyum malu, ketahuan bekerja tak sepenuh hati.

”Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang.”

Senyumku terhenti di tenggorokan.

Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku, ”Jangan mau digoda tamu, bilang Mami kalau ada apa-apa …”

Duh Gusti, perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Seandainya ia tahu kisah sedihku.

Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ada yang bilang Mami juga ’dosen’ alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Aku tak yakin, apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama, selalu saja ada yang baru datang, dan lebih segar.

***

Empat bulan aku di sini, Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari, malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek.

Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. ”Besok malam, mulailah belajar menemani tamu di meja.” Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. ”Jangan mau diajak ke kamar dulu ya!” suaranya tetap rendah tapi tegas.

Malam berikutnya, seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum, ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Biasa itu, anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing.

Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi, meski aku lebih banyak berdiam diri.

”Kamu baru ya?” lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

”Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja.” Senyumnya lebar seperti senyum keledai.

Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. Paling buaya di dunia buaya.

Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku, ”Berapa?” Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Mami menggeleng dengan senyum menggoda, kelihatannya ia punya rencana tersembunyi.

***

Dua orang tamu datang ke rumah. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya.

”Lho, memangnya Yu sakit apa?”

”Pokoknya aku tinggal menunggu mati,” sergah Yu Silam kasar, memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya, paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami.

Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Kalaupun aku harus tertular, itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.

Tanpa kesepakatan, pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Namun, aku harus bicara jujur pada Yu Silam.

”Yu, aku mau jadi buruh cuci saja.”

Yu Silam terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan.

Takut-takut aku melanjutkan, ”Aku ndak bisa Yu, kerja macam itu.”

”Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya??” Yu Silam meradang.

Aku tak berani menatap matanya. Bagaimana menjelaskannya? ”Sudah kucoba. Sudah kucoba Yu, tapi aku ndak bisa.” Jeritku dalam hati.

”Pergilah sejauh yang kau suka. Biarkan aku membusuk di sini!!!” teriaknya parau.

Kupeluk ia dengan air mata, ”Tidak Yu… tidak… kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik.”

Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Di tempat yang benar-benar baru, bukan di desa. Aku tak bisa kembali ke sana. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Juga pandangan mata penuh birahi pemuda-pemuda desa.

Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Aku tak mau jadi dongdot.

***

Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur.

”Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu?” tanyanya beruntun.

Aku menggeleng cepat-cepat, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”

Mami ikut menggeleng-geleng. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. ”Tapi kenapa? Kenapaaa??” kedua tangannya terbuka lebar.

Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Mami kelihatan tak puas, mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.

”Saya…saya… saya sudah tak perawan lagi, Mi…” bisikku pelan.

Perempuan setengah baya itu terbelalak, seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.

”Saya korban perkosaan,” lanjutku lirih. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa.

Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Ia mengangguk lemah. Dengan latar belakang segelap itu, mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini.

Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku siap kembali ke tugas lama, bersih-bersih, cuci piring, dan membuang sampah-sampah. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah.

Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. Bibir Mami bergetar, suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka, ”Nasibmu sama seperti diriku dulu, Mbuk…”

Pamulang, Agustus 2011

Catatan :

1) Dongdot = PSK

2) Kersaning Gusti Allah = kehendak Allah SWT


Sumber : http://cerpenkompas.wordpress.com

Tangan Perempuan di Kelamin Realitas dalam Cerita Limbuk

Sama sekali tidak ada isyarat lenguh birahi. Tidak ada eksplorasi berlebih dalam kaitan dengan seks. Meski di sana terdapat persentuhan cerita dengan persenggamaan dan permasalahan kelamin, lebih tegas, pelacuran. Kehalusan tangan seorang perempuan demikian terasa. Itu pula yang saya rasakan dari sentuhan tangan Tantri Pranash dalam salah satu cerpennya yang diterbitkan dalam salah satu edisi Kompas Minggu yang bertitel: Di Persimpangan Pantura.

Patokbeusi nama tempat yang diangkat. Sebuah kawasan pelacuran yang memang berada di jalur Pantura. Memiliki nama yang cenderung kurang nyaman untuk segelintir orang yang bepergian dan melintasinya. Di tempat ini pula cerita itu mengalir dan menghentak-hentak nurani dalam setiap jalinan kata dalam cerita itu.

Itu cerita tentang bocah perempuan kampung, yang entah oleh kemalangan, entah oleh kelengahan lingkungan, Limbuk—nama tokoh cerita—harus menerima pukulan yang tak hanya mengenai kelaminnya, tetapi juga martabatnya sebagai perempuan.

Usianya baru 11 tahun ketika lelaki bernama Lik Sol merenggut keperawanannya. Sebuah fakta hidup yang harus diterima dalam ketidakmengertian seorang bocah. Tidak mengerti alasan apa seorang lelaki beristri menindihnya. Alasan apa ia harus menjalani takdir demikian.

Itu memang kejadian dalam fiksi, dalam sebuah cerita pendek. Namun, aliran kejadian ke kejadian lain, sesungguhnya sedang membicarakan fakta. Fakta yang benar-benar fakta, bukan fakta yang sekadar polesan dalam cerita fiksi. Penulisnya terlihat berupaya mengeluarkan segenap rasanya dalam cerita agar mewakili kondisi perempuan di negeri pertiwi. Betapa, pelacur-pelacur pun tetaplah perempuan. Makhluk Tuhan yang menjalankan peran yang tidak bisa dilihat sekadar dari sudut biner benar-salah. Melainkan, apa yang melatarinya.

Di sini, Limbuk bersama pikirannya sebagai bocah, ia tidak bisa melihat terang berbagai kejadian beruntun yang menghinggapinya. Ia kebingungan, setelah Lik Sol puas, justru ia yang harus menerima dampratan istri lelaki yang memperkosanya. Tak berhenti di sana, gadis kecil itu harus melihat berbagai keganjilan lain, perempuan-perempuan kampung kerap menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan bahwa Limbuk “tidak suci” lagi.

Di sini menarik, penulisnya sama sekali tidak memaksa pembaca untuk larut dalam deskripsi-deskripsi yang bertele-tele. Hukuman yang didapat oleh Limbuk tercermin hanya dari penceritaan;

“Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang, tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku.”

Penggambaran yang seperti ayunan, yang mengayun hanya menarik ayunan sekali saja, tetapi ayunan itu bisa terayun-ayun hingga berkali-kali. Artinya, dengan penjelasan sedemikian saja sudah memberikan gambaran atas sanksi sosial yang didapat Limbuk, lepas dari soal bahwa idealnya Limbuk korban dan tidak semestinya ia yang dihukum.

Namun, demikian itu juga memberi penjelasan, seperti itulah lingkungan masyarakat, tempat si tokoh cerita hidup dan mengalami pukulan batin cukup menyesakkannya sebagai perempuan kecil. Kecuali menerima kejadian itu, serta mencoba menghadapi gejolak perasaan sebisanya. Penulisnya memberikan penggambaran, gadis yang baru diperkosa itu sempat harus mengalami goncangan batin kuat yang membuatnya bahkan berpikir untuk bunuh diri.

Di sisi itu juga terketemukan sebuah satir cerdas dijalin Tantri—penulisnya—betapa Limbuk berada di tengah keluarga yang sangat miskin, yang bahkan untuk membeli racun guna direguknya untuk bunuh diri pun tak terbeli.

Memang, di beberapa bagian cerita Tantri juga menyelipkan sindiran kondisi yang memang ada di kalangan masyarakat pedesaan; kecenderungan tidak percaya diri dengan identitas mereka sebagai orang desa. Bahkan nama mereka pun diganti menjadi lebih “wah”, tentu versi mereka.

Simak saja saat penulis cerpen ini memasukkan Yu Salim ke dalam jalan cerita, ketika terjadi dialog antara Limbuk dengan tokoh dimaksud,

”Patokbeusi ini kota, Yu Silam?”

”Ssssttt… jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!!” bentaknya. ”Aku Ningce.”

Beranjak dari sana, terdapat penyisipan pesan moral yang tidak kalah apik juga, saya kira. Itu tercermin saat tokoh Limbuk awalnya di-set oleh germo yang dipanggil dengan sebutan Mami, untuk ia hanya bekerja sebagai babu cuci piring pelacur di rumah bordir—dalam realita dunia pelacuran, ini sebagai metode untuk calon pelacur beradaptasi dengan lingkungannya.

Beberapa lama, Limbuk menjalankan peran hanya sebagai tukang cuci piring. Tetapi, perlahan Mami memberinya peran lebih, untuk Limbuk menemani tamu-tamu minum. Sebagai proses awal untuk memperkenalkan ‘calon mangsa’ kepada kepada tamu yang digambarkan penulisnya sebagai lelaki “paling buaya di dunia buaya.”

Perjalanan adaptasi itu terhitung panjang. Setidaknya bisa dilihat dari beberapa ‘drama’ yang dimainkan Mami, menarik-ulur agar Limbuk tidak begitu saja digumuli tokoh yang disebut sebagai buaya oleh penulisnya. Sampai tiba pada konflik. Baik konflik Limbuk dengan batinnya sendiri atas kondisi hidup yang sedang ia perankan, yang akan ia perankan, sampai ketakutan atas risiko peran seperti dialami Yu Silam yang pernah meniatkan Limbuk menjadi dongdot (pelacur).

Di sini, Limbuk bersikeras untuk tidak mengalah ke dalam perasaan kotornya. Tidak takluk pada tudingan-tudingan yang sudah dijatuhkan masyarakat di kampungnya, yang sebenarnya berpeluang membuat perempuan yang mengalami perkosaan akan kian jatuh dalam keterpurukan, ditingkahi dengan berbagai tindakan yang jauh lebih buruk. Justru, dari sana, Limbuk bisa keluar dari desakan keadaan dan pertarungan batin, meski Yu Silam pun jatuh sakit yang membuatnya harus sering berobat. Limbuk memilih keputusan, ”Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Jadi tukang cuci juga saya mau.”

Logika Cerita.

Lik Sol, lelaki yang menjadi pemerkosa dalam cerita ini, demikian saja lepas dari sanksi sosial. Tidak ada hukuman apa-apa padanya. Selain, dari ‘bisik-bisik’ dengan orangtua Limbuk, kemudian berdamai. Lik Sol bebas dari hukuman, baik dari masyarakat maupun dari penegak hukum. Kemudian, malah pemerkosa selanjutnya digambarkan penulis cerita tersebut bisa melenggang ke kota untuk bekerja.

Memang, kemungkinan bahwa orangtua Limbuk mendapat kompensasi tertentu dari Lik Sol, jika memang ada, mungkin saja bisa terjadi. Artinya mungkin saja hal itu bisa didapati dan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Akan tetapi jika melihat bahwa setting lokasi cerita mengangkat salah satu kawasan dusun di pulau Jawa—tidak konkret disebut belahan Jawa mana, kecuali lokasi prostitusi Patokbeusi di Jawa Barat—, bernama Dukuh Menjangan. Di sini, jika orangtua mengetahui anaknya menjadi korban perkosaan, sulit bisa dipahami, ia bisa demikian saja memaafkan pelaku.

Taruhlah misal orangtuanya memang memiliki keterbatasan kemampuan pikir, ada pihak desa yang pastinya menjalankan tanggung jawab untuk menangani hal itu. Entah memberi sanksi kepada pelaku, dan kemungkinan lainnya. Apalagi—dalam cerita ini—korban adalah bocah perempuan berusia 11 tahun. Berat bisa menerima bahwa penduduk desa bisa sedemikian permisif—merujuk lagi pada acuansocio-culture masyarakat pedesaan di Indonesia. Ini sedikit yang menjadi benturan logika dalam cerita Limbuk.

Sedang selebihnya, merujuk landasan disiplin ilmu yang juga dipergunakan, disiplin Psikologi sudah demikian tepat dipergunakan penulis. Paling tidak saat penulis menceritakan keadaan guncangan batin yang dialami korban perkosaan, semisal; ketakutan, yang diwakilkan dalam; Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Tidur bagai kepompong, berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi.

Terlepas dari itu, Limbuk mewakili potret-potret sistem masyarakat dan bahkan negara, yang sejauh ini belum maksimal dalam mencapai satu terminal, ketika seyogianya perempuan bisa aman. Sambil kita menaruh harap, ke depan penulis perempuan Indonesia bisa lebih getol bincangkan kaumnya apa adanya tanpa melulu mengajak melamun dengan cerita seputar pesta, diskotik dan ‘pemaksaan’ bahwa ‘cerita’ hanya ada dan menarik di kalangan menengah ke atas saja—sampai terdapat penerbit yang hanya menerima novel yang mengemas cerita masyarakat menengah ke atas saja.

Akhirnya, saya harus akui, ini bukanlah sebuah ulasan komprehensif dalam melihat buah karya Tantri Pranash yang juga seorang Kompasianer tersebut—masih banyak hal yang luput, atau belum saya telusuri lagi.

Toh, mengutip Acep Iwan Saidi dalam Matinya Dunia Sastra : Biografi Pemikiran dan Tatapan Terberai Karya Sastra Indonesia, disebutkan bahwa mempelajari pemikiran seorang penulis tidak cukup dengan apa yang ditulisnya, tapi akan lebih baik jika mempelajari juga latar belakang mengapa penulis bersangkutan menulis hal itu. Dengan kata lain, biografi penulis, sejauh mendukung gagasan yang ditulisnya, menjadi penting sebagai aspek referensial.(Ilustrasi: kosmik.web.id).

Berdasar Cerpen: Di Persimpangan Pantura, oleh: Tantri Pranash.

sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/13/tangan-perempuan-di-kelamin-realitas-dalam-cerita-limbuk/

Jumat, 30 Desember 2011

di BawaH TangisaN LangiT

Kutunggu dirimu di penghujung sepI

di balik tirai-tirai bercampur serpihan-serpihan emosI.

Memang membuat cemas-cemas sunyI.

Kutunggu kehadiranmu untuk tersenyum hari inI

meski kutahu tak akan pernah kudapatI.

Hanya irisan-irisan hati yg dibalut adonan senyum yang rapI

sesekali dicelupkan ke dalam cangkir kopI.

Mungkin karna tak nyaman atau tak enak kau mencari alibI.

Kau genangkan seluruh tanya tanpa kau ijinkan untuk mengendaP

sebentar waktU. Membanjiri luka-luka yg terlanjur perI

bahkan tak terasa nyeri apalagi gelI.

Aku coba goreskan sedikit perasaankU

pada kertas yang jawab pun tak pernah ia berI.

Aku gantungkan di bengkokan besi di bawah kunci pelaju jerujI.

Sebentar lagi kudapati sebaris teks yang kukira menanggapi isi surat tadI.

Tapi ternyata hanya sekedar informasI

kalau suratku dirakus hujan yang tak kunjung berhentI

sejak siang tadi hingga kau dapati suratku tersungkur sepI

sendiri di bawah sapuan pandang mataharI.

Pantas saja ada yang tak enak dengan hati inI.

Mungkin karena perasaanku ditilas oleh perasan-perasaan prihatiN

Sang pemilik langit kepadaku sedari pagI.


(PenunggU PagI di PenghujunG MimpI BersamA ILAHI *P3MBI* : 30-12-2011)

Selasa, 11 Oktober 2011

Buat Postingan Blogmu Lebih Ekspresif dengan Smiley !

Membuat psotingan blog adalah salah satu rutinitas para blogger. Baik itu untuk kepentingan menulis artikel, curhat, berbagi ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Tapi tak jarang juga postingan di blog kita bukannya menghibur pembaca atau membuat pembaca merasa enjoy dalam melahap kata demi kata yang telah kita tuliskan, melainkan rasa bosan dan jenuh sehingga merasa enggan untuk mampir ke blog kita di lain waktu, bahkan kalau nyasar pun di jamin deh calon pembaca lebih memilih buru-buru kabur (hikshikshiks) :puppyeyes: salah satunya yaitu dikarenakan tulisan kita terlalu kering dan kurang ekspresif. Eitz.. jangan keburu mewek dulu guys...ada solusinya kok... misalnya dengan menambahkan smiley seperti ini ( `´)-σ angeltakboleagree6senampolisitandunyelemsad1
atau seperti yang ini >> kisspika18:ngacir::sinchan:woooh::lamagawa::devilishgrin:

keren banget kaaaan agree5


Lantas, bagaimana ya caranya agar calon pembaca postingan bisa betah nangkring di bog kita?? fikir:hilo:
tenang.. tenang,, jangan keburu bingung.. yuk simak di mari marisini

1. Buka Mozila Firefork, kalau belum punya, download di sini
2. instal Mozila. Ikuti langkah-langkahnya (tinggal klik "next" aja sampai "Finish"
3. download Greasemonkey. untuk mendapatkannya download di sini
4. Lalu Instal, ikuti perintahnya. Jika sudah selesai, restart Mozila
5. download beberapa jenis emoticonnya di bawah ini :
instal salah satu, beberapa atau kalau perlu semua emoticon di atas (tapi pasti nanti loadingnya jadi lelet kalau kebanyakan emoticon :devilishgrin:)
6. masuk ke Dasbor >> Setelan >> pada "Pilih Editor Entri" (pilih "Editor Lama") >> Simpan Setelan
7. Pilih Menu Rancangan >> Edit HTML >> Centang kolom "Expand Widget"
8. cari kode ]]> dengan cara menekan tombol Ctrl+F
9. Salin dan Pastekan kode berikut tepat di atas
img.emoticon {
padding: 0;
margin: 0;
border: 0;
}

10. Save Template
11. masuklah ke kolom Entri Baru atau Edit Entri,, Taraaaaat.... Emot-emot lucu itu sudah terpasang di Editor Entri Blog Kamu

Cukup Mudah kan caranya????
Selamat Mencoba!!!!! :ngacir::ngacir::ngacir:


www.masterendi.com

Kamis, 29 September 2011

Cara Mengatasi NetbookAcer AOA 150 tidak bisa booting


Mungkin dari agan-agan pernah mengalami laptop atau PCnya tidak bisa booting alias tidak bisa masuk windows. Apalagi ketika agan belum sempat mem-backup data-data penting yang ada di dalam drive laptop. Memang sih ada banyak cara untuk membackup data di dalam drive.. tapi kalau agan-agan gak mau ribet, mungkin bias memakai cara yang pernah saya pakai ketika laptop saya mengalami koma alias tidak mau booting. Langkah-langkahnya ialah sebagai berikut :

1.    Siapkan CD Hiren’s
2.    CD/DVD Room tentunya
3.    Masukkan CD Hiren’s ke dalam CD/DVD Room
4.    Restart laptop atau PC Anda
5.    Atur settingan BIOS Anda agar booting melalui CD/DVD
Bagi yang belum tau cara mengaturnya yaitu, ketika masuk bios biasanya ada notif untuk menyetting BIOS (misalnya pada Acer AOA 150) dengan cara menekan F2 untuk mengatur settingan BIOS. pilih tab Booting, kemudian posisikan CD/DVD USB pada urutan nomor 1 atau paling atas). Setelah itu simpan pengaturan anda. Maka laptop/PC akan memulai masuk BIOS lagi dan akan booting melalui CD Hiren’s.
6.    Katika masuk pada tampilan Hiren’s pilih menu paling atas yaitu Boot From Hard Drive. Maka Anda akan diantarkan untuk memasuki Acer E-recovery Management.
7.    Pilih restore default from factory (ikuti semua petunjuknya, biasanya tinggal klik “next” sampai proses restore berhasil)
8.  Setelah itu anda akan bisa melihat laptop/PC Anda normal kembali seperti semula (bisa melakukan booting via Windows)

:::: semoga bermanfaat::

Minggu, 05 Juni 2011

Perempuan dan Koridornya



Isu deskriminasi gender yang selama ini menimpa perempuan Indonesia dan dunia pada umumnya, mendapat tanggapan serius dari kalangan perempuan. Salah satu bukti nyata yaitu mulai bermunculannya penulis-penulis karya sastra feminis seperti N.H Dini, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan masih banyak lagi. Penulis-penulis tersebut telah banyak menumpahkan gagasannya mengenai perjuangan perempuan untuk mnyetarakan dirinya bahkan keinginan untuk membuktikan bahwa wanita lebih unggul dari laki-laki. Jika kita tengok salah satu kumpulan cerpennya Djenar yang berjudul Jangan Main Main dengan Kelaminmu dimana pada kumpulan cerpen tersebut menyuguhkan cerita perempuan yang selalu ditindas oleh laki-laki tatapi di akhir  cerita selalu perempuan yang menang atas kekerasan yang dilakukan terhadap laki-laki.

Pada dasarnya, untuk mengatasi isu deskriminasi gender tersebut, tidak perlu melakukan hal yang ekstrem seperti itu. Tak sedikit juga perempuan yang mengabaikan tugasnya sebagai perempuan demi tidak ingin dijuluki wanita kuno yang hanya menjadi budak laki-laki. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga bisa seperti laki-laki dengan mengambil alih tugas laki-laki. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa secara biologis, fisik laki-laki memang diciptakan lebih kuat dari perempuan. Namun secara pemikiran mereka memang diciptakan dengan takaran yang sama, tinggal bagaimana individu itu mengolah dan memanfaatkannya.

Berangkat dari fakta-fakta tersebut, sebenarnya untuk menjadi unggul, perempuan tidak perlu meninggalkan kewajibannya sebagai perempuan dan mengambil alih pekerjaan laki-laki. Karena hal itu semakin memperkuat pendapat bahwa laki-laki memang jauh lebih unggul daripada perempuan. Perempuan akan sangat terhormat dengan tetap melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan wanita yang berdasarkan moral dan pikiran tentunya. Selain itu, perempuan juga bisa menjadi lebih unggul ketika peempuan mampu mempertahankan hak dan melaksanakan kewajibannya sebagai perempuan. Dengan begitu, perempuan akan bisa menyelamatkan kaumnya dari isu deskriminasi gender yang selama ini hidup di tengah-tengah masyarakat dengan caranya sendiri yaitu cara yang lebih halus, bermoral dan berpendidikan.

Jika hal di atas bisa disadari oleh kaum perempuan dan bisa dilaksanakan dengan baik, maka perempuan akan lebih dihormati khususnya di mata kaum laki-laki. Karena wanita punya koridor sendiri untuk menjalani kehidupannya, begitu juga dengan laku-laki. Tidak semua yang dilakukan laki-laki bisa di lakukan perempuan dan sebaliknya, tidak semua hal yang biasa dilakukan oleh perempuan bisa dilakukan oleh laki-laki. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons